Dari Tongging Menuju Sidikalang

Dari Tongging Menuju Sidikalang
Rencananya hari kedua di Sumatera Utara ini saya akan menuju ke Pulau Samosir. Ada beberapa alternatif untuk menuju Pulau Samosir dari Desa Tongging. Alternatif pertama adalah naik angkot keluar dari Tongging ke Merek, kemudian dari Merek lanjut naik angkutan seperti Sinar Sepadan ke Pematang Siantar yang dilanjut naik bus ke Parapat. Dari Parapat tinggal menyeberang saja melalui Pelabuhan Ajibata ke Tomok yang ada di Pulau Samosir. Alternatif kedua yaitu naik angkot dari Tongging ke Merek, kemudian dilanjutkan naik angkutan dari Merek ke Pangururan yang akan melewati Kota Sidikalang yang merupakan ibu kota Kabupaten Dairi. Rute kedua ini agak memutar cukup jauh tapi tidak perlu menyeberang dengan kapal. Kenapa? Karena Pangururan merupakan kota kecil yang berada di Pulau Samosir namun sudah berhimpitan dengan daratan Sumatera. Dari daratan ke Pangururan sudah dihubungkan dengan jembatan (Terusan Tano Panggol) sehingga mobil dapat masuk. Sedangkan alternatif yang terakhir adalah naik perahu dari Desa Tongging ke Pulau Samosir. Sayangnya dari Tongging ke Samosir dengan perahu ini cukup jauh, sehingga tidak ada perahu reguler yang melayani rute ini. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari pasangan suami-istri yang ada di sebelah kamar saya, dulu ada perahu reguler yang melayani rute Tongging-Tomok seminggu dua kali. Namun sekarang sudah tidak ada lagi karena sepi dan jaraknya cukup jauh.

Setelah memikirkan dan mempertimbangkan berbagai hal akhirnya saya memilih alternatif yang kedua. Saya akan masuk Pulau Samosir melalui Pangururan. Tapi sebelumnya saya akan mampir dulu ke Sidikalang untuk mengobati rasa penasaran saya dengan adanya Taman Wisata Iman yang ada disana. Selesai berkemas barang-barang saya, saya kemudian berpamitan dengan pemilik wisma. Pemilik wisma menyarankan saya untuk menunggu saja angkot di warung karena biasanya pagi hari sudah banyak angkot yang lewat. Cukup lama menunggu akhirnya ada juga angkot yang lewat. Waktu itu sudah menunjukkan pukul 09.00. Saya naik angkot yang sudah sangat reot bersama rombongan para ibu-ibu yang mungkin akan ke Kabanjahe karena tujuan akhir angkot ini adalah Kabanjahe. Angkot berjalan sangat lambat di jalan yang juga cukup jelek ini. Angkot kemudian berhenti sebentar di Pelabuhan Tongging untuk menaikkan penumpang. Selanjutnya angkot menaiki bukit meninggalkan Desa Tongging. Keindahan Desa Tongging kembali terlihat sangat luar biasa dari atas bukit. Saya benar-benar tidak akan melupakan perjalanan mengesankan ke desa yang berada di tepi Danau Toba ini.

Dengan mobil yang reot dan jalan sangat menanjak serta berliku, hanya butuh waktu 30 menit bagi angkutan ini untuk sampai di Merek. Ongkosnya juga cukup murah, hanya 5.000 saja. Di Merek saya kembali menunggu angkutan yang akan membawa saya ke Sidikalang. Ada banyak sekali angkutan dari Merek ke Sidikalang seperti Pulo Samosir Nauli (PSN), Samosir Pribumi (Sampri), Dairi Transport, dan lain-lain. Kebanyakan angkutan ini berasal dari Terminal Kabanjahe. Angkutan seperti Pulo Samosir Nauli dan Samosir Pribumi memiliki tujuan akhir Pangururan dan akan melewati Sidikalang, tapi angkutan ini belum tentu lewat di Taman Wisata Iman (TWI). Sebaiknya kalau Anda mau naik, tanya saja ke calo yang ada di Merek. Calo dengan senang hati akan mencarikan Anda angkutan dari Merek ke arah Sidikalang yang melewati Taman Wisata Iman. Calo ini nggak akan meminta bayaran kepada Anda, tapi dia meminta kepada sopir.

Memang benar cukup banyak angkutan dari Merek yang ke arah Sidikalang, tapi apakah dengan mudah saya mendapat angkutan? Ternyata tidak! Angkutan yang lewat Merek ke arah Sidikalang selalu saja sudah penuh sejak dari Kabanjahe. Angkutan-angkutan yang lewat terus saja menolak penumpang karena memang sudah penuh sesak. Setelah lama menunggu akhirnya saya dapat juga angkutan jenis elf untuk ke Sidikalang. Beruntung angkutan ini tidak penuh, tapi setelah berhenti sejenak di Merek juga langsung full. Angkutan langsung berangkat menuju Sidikalang. Seperti halnya sopir Medan yang lain, sopir ini juga dengan sukses membuat saya tidak bisa tidur. Jalan yang agak sempit tapi halus dan berliku terus saja dilibas tanpa ampun. Kaca yang terbuka lebar membuat udara dalam angkutan menjadi sangat sejuk. Sepanjang jalan yang terlihat hanya hutan, tebing di sebelah kanan, dan jurang di sebelah kiri. Kalau Anda punya cukup waktu, Anda bisa mampir ke Resort Taman Simalem. Cuma… Harga tiketnya yang lumayan mahal.. Sebagai gambaran, harganya setara dengan tiket masuk Dufan maupun Trans Studio Bandung. Dengan harga semahal ini saya jadi nggak penasaran dengan yang namanya Resort Taman Simalem. Hehehe..
Dari Tongging Menuju Sidikalang
Sebenarnya perjalanan ini cukup membosankan. Saya ngantuk, tapi nggak bisa tidur akibat cara mengemudi si sopir yang nggak karuan meliuk kanan-kiri dengan lincahnya. Baru setengah jalan mobil berhenti karena ada antrian mobil lain yang cukup panjang. Wah macet nih!! Ternyata di depan adalah jembatan kayu yang rusak dan hanya bisa dilewati secara bergantian. Jadi ya buka tutup jalur gitu deh. Ada sekitar 20 menit menunggu untuk dapat melewati jembatan ini. Heran ya, dijalur yang cukup ramai seperti ini masih ada saja fasilitas jalan yang hancur. Padahal untuk jalannya sangat mulus loh. Nah sewaktu berhenti di jembatan tadi ada pasangan suami-istri berumur kira-kira 70-an tahun yang berbicara kepada sopir dalam Bahasa Batak. Saya tidak tahu artinya tapi kira-kira si ibu meminta sopir menunggu karena dia akan buang air kecil. Si sopir menolak karena mobil sudah mendapat jatah untuk melewati jembatan. Nah ditengah jalan ada penumpang yang kebetulan turun, si ibu kembali meminta sopir untuk menunggu. Akhirnya sopir menurutinya. Saat itu mobil berhenti di area lapang dan jauh dari semak-semak. Tidak dapat diduga ibu dan bapak tadi dengan enteng kencing berjama'ah di sebelah mobil. Yak tepat sekali di sebelah kiri mobil. Saya yakin kalau semua penumpang bisa melihatnya. Please jangan dibayangin ya! Haha.. Coba kalo gadis.. #Plaak.. Setelah menuntaskan hajatnya, kedua penumpang ini kembali naik ke mobil dengan muka berseri-seri. Udah lega kali yah.. :D

Waktu tempuh perjalanan dari Merek ke Sidikalang sekitar dua jam lebih. Semakin dekat ke Sidikalang jalannya udah nggak bagus lagi, udah banyak jalan yang bolong-bolong. Para penumpang udah mulai banyak yang turun. Wah berarti udah deket sama Taman Wisata Iman nih. Mata saya terus saja tertuju keluar jendela, takut kalau nanti kelewatan. Sempat saya melihat air terjun kecil yang sangat jernih berada di tepi jalan. Kalau di Jawa pasti udah jadi tempat wisata nih. Hehe.. Setelah air terjun mini tersebut jalan kemudian menanjak. Tidak lama kemudian saya melihat gerbang bertuliskan "Taman Wisata Iman" di sebelah kiri. Dengan spontan saya teriak, "kiri bang!!". Mobil langsung berhenti dan saya membayar 20.000 untuk perjalanan selama dua jam tadi.

http://www.wijanarko.net/2011/09/dari-tongging-menuju-sidikalang.html
Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Arsip Blog