PEMBUKAAN CUPU PANJALA (serial budaya musyrikin)


Momod ijin bikin threed dan jika pantas jangan di closed, sekedar memberikan informasi tentang khasanah budaya indonesia yang berkaitan dengan informasi mistis.



Terlepas dari syirik dan tidaknya dikembalikan ke pribadi masing masing, boleh mempercayai dan boleh tidak mempercayai. Mohon jangan diperdebatkan dan ambillah sebagai wawasan pengetahuan saja.



Terimakasih dan selamat membaca juga silahkan prosesnya seperti apa hingga bisa terwujud banyak gambaran2 yang dalam beberapa tahun ke belakang dari apa yang di gambarkan di kain cupu panjala terbukti. Wallahu A'lam Bishowab


TENTANG CUPU PANJALA



Spoiler for :



Cupu Panjala adalah tiga buah cupu yang disimpan dalam kotak kayu berukuran kurang lebih 20x10x7 cm dan dibungkus dengan ratusan lembar kain mori. Selanjutnya cupu ini disimpan di dalam sebuah ruangan yang tak boleh dimasuki oleh siapa pun selama setahun, sampai acara pembukaan Cupu Panjala berikutnya digelar kembali.



Sejak dimulai pembukaan Cupu Panjala pertama kali, benda ini telah mengalami 3 kali perpindahan, sesuai dengan permukiman para ahli waris dari Kyai Panjala. Cupu Panjala diwariskan secara turun-temurun dari generasi tertua ke generasi berikutnya yang lebih muda. Sejak tahun 1957 sampai sekarang, Cupu Panjala berada di Desa Mendak Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul, tepatnya di rumah Bapak Dwijo Sumarto yang merupakan menantu dari generasi ke-7 dari trah Kyai Panjala.



Prosesi pembukaan Cupu Panjala ini merupakan agenda tahunan yang telah mendapatkan pengesahan dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada setiap tahunnya, para abdi dalem dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat datang untuk membantu prosesi pembukaan Cupu Panjala. Dalam pelaksanaannya, para abdi dalem yang membuka kain mori Cupu Panjala harus memakai pakaian adat Jawa dan berpuasa selama setengah hari sebelumnya, termasuk Bapak Dwijo Sumarto.



Dari tahun ke tahun, sambutan masyarakat untuk melihat secara langsung prosesi pembukaan Cupu Panjala selalu meningkat karena tidak ada larangan bagi siapa pun untuk datang. Masyarakat yang datang banyak yang membawa ayam jago dan beberapa bahan makanan yang nantinya akan dimasak dan dimakan oleh semua orang yang datang di acara pembukaan Cupu Panjala. Mereka yang membawa ayam dan bahan makanan biasanya adalah orang-orang yang membayar nazar karena keinginannya terkabul (sebagai ungkapan rasa syukur) berkat ramalan dari Cupu Panjala. Selain itu, makanan juga datang dari orang-orang yang mempunyai hajat (keinginan) atau meminta berkat dari Cupu Panjala.



Besarnya sambutan masyarakat yang datang di acara pembukaan Cupu Panjala tak lepas dari keyakinan sebagian masyarakat yang mempercayai bahwa gambar yang terlihat dalam lapisan kain mori merupakan ramalan yang bisa dipercaya. Gambar tersebut kemudian diterjemahkan dan dianggap sebagai ramalan yang dihubungkan dengan keadaan sosial, perekonomian, lingkungan hidup (alam), bahkan perpolitikan. Padahal, jika ditilik dari segi sejarah, awalnya pembukaan Cupu Panjala dilakukan sebagai upaya untuk meramal kondisi pertanian.



Prosesi pembukaan Cupu Panjala dimulai dari kisah Kyai Panjala. Konon, kisah ini bermula ketika seorang bapak yang merupakan murid Sunan Kalijaga kehilangan anaknya di laut. Melihat sang murid tertimpa musibah, Sunan Kalijaga berusaha membantu dengan berpesan agar selama proses pencarian di laut, sang bapak harus berpuasa tujuh hari tujuh malam, membawa segenggam nasi, dan jala. Pesan Sunan Kalijaga dipatuhi oleh sang murid.



Ketika jala dilemparkan ke laut, sang bapak akhirnya dapat menemukan anaknya berikut barang berharga yang ikut terjala. Salah satu barang berharga tersebut berbentuk cupu. Sang anak yang ketika ditemukan dalam kondisi terjala akhirnya diberi nama Kyai Panjala, sedangkan cupu yang ditemukan disebut Cupu Panjala.



Cupu yang berhasil ditemukan kemudian dibungkus dengan kain mori karena diyakini merupakan barang berharga dan bertuah. Setelah dibungkus dengan kain mori, cupu yang berbentuk cawan kecil tersebut kemudian disimpan di lemari. Cupu yang disimpan tersebut berjumlah tiga buah dan diberi nama Kyai Semar Tinandu, Kyai Palang Kinantang, dan Kyai Kethiwiri.



Beberapa saat kemudian, cupu yang tersimpan di lemari dibuka. Ketika cupu dibuka ditemukan tanda-tanda bercak air yang menempel di lapisan kain mori. Tanda-tanda ini nampak seperti gambar dan dibaca sebagai tanda zaman (ramalan) dan dimanfaatkan untuk memprediksi situasi pertanian. Tak jarang dalam setiap pembukaan Cupu Panjala, ditemukan pula beberapa benda seperti jarum, gabah kering, kulit kacang, dan lain sebagainya. Benda-benda ini juga diterjemahkan sebagai satu rangkaian pendukung ramalan.








PEMBUKAAN CUPU PANJALA :



Spoiler for :



Masyarakat Dusun Mendak, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta sekitar 35 km dari tempat saya memiliki ritual unik setiap tahunnya. Awalnya, ritual ini digunakan untuk memprediksi tanda-tanda iklim dan alam, yang digunakan untuk kepentingan pertanian. Namun, entah karena apa, ritual ini sekarang juga diyakini bisa meramalkan kehidupan sosial politik negeri ini. Ritual pembukaan Cupu Panjolo ini, selalu menarik perhatian dan dihadiri ribuan orang. Namun demikian pihak trah Panjolo menyatakan tak akan memberikan tafsir apa pun, dan hanya akan membacakan gambar-gambar yang muncul di kain mori pembungkus cupu.



Upacara pembukaan Cupu Panjolo yang berakhir Rabu (5/10/2011) dini hari lalu menyisakan beragam tafsir bagi peziarah yang datang. Ribuan orang dengan cermat mencatat setiap ucapan juru kunci Cupu Panjolo yang menyampaikan gambar demi gambar yang terdapat pada kain mori pembungkus tiga cupu.





Tak kurang dari 40 gambar muncul dari rangkaian kain mori penutup cupu panjolo, yang kesemuanya telah dibacakan pada malam itu. Ada tiga buah Cupu Panjolo yang dimasukkan dalam satu kotak, yang masing-masing diberi nama berdasarkan urutan dari besar ke kecil. Ketiga nama cupu panjolo itu adalah: Semar Kinandhu , Kalang Kinanthang , dan Kenthi Wiri.



Setelah pembacaan gambar-gambar yang muncul pada kain mori selesai, ritual dilanjutkan dengan mengamati posisi cupu dan kotaknya. Mengejutkan! Suasana yang semula riuh mendadak jadi hening. Posisi kotak wadah cupu tersebut, ternyata terguling. Menurut Mbah Medi, hal ini merupakan kejadian aneh. "Selama 60 tahun ritual membuka cupu dilaksanakan, baru terjadi kali ini. Kotaknya berubah posisi, miring dan agak terguling" Sementara itu, masyarakat umum memahami bahwa kotak merupakan simbol dari sebuah kesatuan.



Adapun posisi masing-masing cupu juga tak luput dari pengamatan. Cupu Semar Kinandhu dan Kalang Kinanthang, posisinya tetap. Tidak berubah. Sedangkan cupu terkecil, Kenthi Wiri terlihat miring. Perlu diketahui, cupu Semar Kinandhu dan Kalang Kinanthang mewakili simbol kekuasaan, dan Kenthi Wiri mewakili simbol rakyat.






KYAI CUPU PANJALA


Spoiler for :










UBO RAMPE


Spoiler for :












PROSESI PEMBUKAAN CUPU PANJALA


Spoiler for :












SETELAH DIBUKA


Spoiler for :












KETERANGAN GAMBARAN YANG ADA DALAM KAIN


Spoiler for :



Acara pembukaan mori dimulai pukul 01.00 hingga 03.00 dinihari. Begitu kain dibuka, muncul gambar pertama yang langsung membuat warga bergidig: "Kidul-kulon, kidul-wetan, ono getih garing (Selatan-barat, selatan-timur, ada darah kering," teriak Medi Suminarno (71), salah seorang anggota trah Kyai Panjolo yang bertugas membacakan gambar demi gambar yang muncul dari kain mori.



Gambar kedua cukup memunculkan motif gir dan rantai kendaraan. Disusul kemudian dengan gambar-gambar berikutnya mulai dari pistol, kepala raksasa dengan, bercak darah, perempuan telanjang, bocah perempuan membawa parang hingga gambar Gunung Merapi dengan angka 5 diatasnya dan gambar Candi Borobudur.



Masyarakat dibuat sedikit tenang ketika gambar tokoh Gathotkaca muncul. Sementara itu yang tidak kalah menariknya, gambar kuda muncul beberapa kali. Begitu juga dengan kemunculan gambar anjing dan anak ayam.



Peziarah sontak terdiam manakala, Mbah Medi membacakan gambar yang muncul berikutnya. "Kidul-kulon, gambar Durno numpak kewan, mburine ono tapak sikil ", teriak Mbah Medi parau. Teriakan Mbah Medi, kurang lebih memiliki arti demikian; di bagian selatan-barat (barat daya) kain terdapat gambar wayang Durna yang sedang menaiki suatu hewan yang tidak teridentifikasi jenisnya. Dan dibelakang gambar itu (Durna naik hewan) terdapat gambar telapak kaki. Usai ritual, Mbah Medi mengatakan bahwa gambar Durna telah muncul beberapa kali pada tahun-tahun belakangan ini. Namun pada tahun ini agak berbeda, karena yang muncul gambar "Durna menaiki hewan". Durno adalah karakter tokoh wayang yang dikenal licik dan suka mengadu domba.






Sumber : http://aksarasahaja.wordpress.com/



Salam Rahayu Wilujeng
Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Arsip Blog